Monday, August 29, 2016

BULAN BUDAYA 2016 - GKI TAMAN ARIES

Selain Masa Raya Natal dan Masa Raya Paska, bulan Agustus juga menjadi bulan istimewa bagi GKI Taman Aries karena adanya tiga kegiatan besar di dalamnya. Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Peringatan Hari Ulang Tahun GKI dan BULAN BUDAYA.

Kekentalan tautan antara tiga kegiatan di dalam bulan Agustus tersebut sangat nyata dan dapat dirasakan. Kemerdekaan Republik Indonesia diperjuangkan dengan gigih oleh Bangsa Indonesia SENDIRI. Sebuah bangsa yang mendiami negara kepulauan Nusantara, yang terdiri dari 1.340 suku (Sensus BPS 2010) dan yang hidup dengan memegang semboyan: BHINNEKA TUNGGAL IKA. Di sisi lain, dengan perjuangan dan kesadaran akan keberagaman suku, para pendirinya telah mengubah nama Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui (CHCTCH) menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI). Tanggal 26 Agustus 2016 ini, GKI memperingati terjadinya penyatuan dan pembentukan Sinode Am GKI yang ke 28. Sementara itu, Bulan Budaya yang diselenggarakan GKI Taman Aries ingin mewujudkan semangat keberagaman tersebut di dalam ibadah.

Beberapa tahun terakhir ini, Bulan Budaya diselenggarakan dengan membawa kehidupan sosial budaya berbagai daerah ke dalam ibadah, dengan fokus pendalaman yang berbeda-beda dari tahun ke tahun. Misalnya, tahun 2015 yang lalu, diambil kehidupan sosial budaya daerah Toraja, Nias, Dayak dan Bhinneka Tunggal Ika untuk tiap ibadah Minggu, dengan fokus pendalaman pada sejarah pekabaran Injil di tiap-tiap daerah tersebut.

Untuk Bulan Budaya 2016, kita memberanikan diri keluar dari kandang untuk melihat apa yang terjadi di luar Indonesia. Nuansa Afrika, Hawaii, Asia dan Latin Amerika mengisi dan mewarnai ibadah mingguan selama empat minggu.

Fokus pendalaman kali ini adalah tentang pujian. Pujian juga sering orang sebut sebagai "Suara Gereja" antara lain karena hampir setengah dari tata ibadah berisi pujian. Bukankah Kitab Mazmur juga merupakan bagian yang paling panjang di dalam Alkitab? Selain itu, kita juga belajar dari Alkitab bahwa dari masa Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, pujian selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam kegiatan ibadah. Untuk itulah kita ingin mengetahui bagaimana pekabaran Injil ke berbagai kawasan di dunia ini membawa ke dan/atau mempengaruhi musik dan pujian di kawasan tujuan dan seberapa derajat transformasinya pada kehidupan sosial budaya setempat.

Dibawah ini disampaikan video untuk memberikan gambaran ringkas tentang paparan musik dan pujian di kawasan yang dipilih menjadi nuansa mingguan.

AFRIKA




HAWAII




ASIA



Di minggu ke tiga yang bernuansa Asia, PS Immanuel (paduan suara lanjut usia GKI Taman Aries) tidak mau ketinggalan mempersembahkan pujian. Pujian yang berjudul APNO KO TO IS DUNIYA MEIN (Manusia Di Dunia Fana) adalah sebuah lagu klasik Hindi-Bangladesh dengan lirik baru yang diilhami dari Matius 5 : 38 -42, dimana Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana manusia harus hidup di dunia ini berdasarkan Hukum Kasih!

Inilah video persembahan pujian itu, disertai ucapan terima kasih kepada Ibu Natalia Hendrata yang telah membuatkan musik pengiringnya yang rancak!




LATIN AMERIKA



Pada akhir dari tiga tayangan video diatas, yaitu nuansa Hawaii, Asia dan Latin terdapat pujian yang disertai lirik aseli beserta transkrip Bahasa Indonesia yang dapat dinyanyikan. Silahkan menyanyikan lirik dalam Bahasa Indonesia.

Semoga dapat menjadi berkat bagi saudara sekalian dan jika berkenan, berilah kami masukan agar penyelenggaraan di tahun-tahun mendatang menjadi lebih baik lagi, hanya untuk kemuliaan Allah! Ad Maiorem Deo Gloria!

L'Shalom.-

Wednesday, August 3, 2016

SEKOLAH MINGGU - Unforgettable Memory

Sebuah nama dari masa kecilku yang masih saya ingat adalah IBU SITI MURSIH. Beliau adalah satu dari beberapa Guru Sekolah Minggu di suatu gereja kecil, Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Wonosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Beliau berkepribadian penyayang, murah senyum, penyabar dan suka menyapa. Saya masih ingat satu lagu berbahasa Jawa yang beliau ajarkan +/- 55 tahun yang lalu. Lagu itu beliau ajarkan menjelang Perayaan Natal anak-anak Sekolah Minggu.

Ingatan kuat saya atas lagu itu, disamping karena saya menyukainya, juga karena mempunyai melodi yang sangat mirip dengan (saya belakangan secara tidak sadar mengetahuinya) lagu kebangsaan negara Amerika Serikat (USA) yaitu "Star Spangled Banner."

Agar lagu itu tidak hilang ditelan masa, maka saya mencoba membuat transkrip sesuai ingatan saya, dengan harapan masih ada yang tertarik untuk memelihara dan menyanyikannya.



Semoga anda juga tertarik!

Thursday, February 18, 2016

Lilin Masa Raya Paska

LILIN MASA RAYA PASKA
Kesejarahan & Praktek

Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita jumpai simbol/ lambang. Kita menggunakannya (simbol uang: Rp, £, €, ¥), memakainya (logo merek ternama) dan bahkan mematuhinya (tanda lalu-lintas). Demikian juga di dalam kehidupan bergereja banyak simbol yang kita kenal dan pergunakan, baik sebagai pengingat, penguat maupun sebagai identitas. Simbol-simbol tersebut, diantaranya seperti: salib, altar & perlengkapannya, warna, liturgi, termasuk juga penggunaan lilin.
Di dalam gereja, lilin hampir selalu dipergunakan baik pada kegiatan kebaktian minggu biasa maupun pada kegiatan kebaktian istimewa, seperti kebaktian pernikahan, kebaktian di Masa Raya Natal, demikian juga pada kebaktian di Masa Raya Paska, masa yang saat ini sedang kita masuki.

1.   Lilin Sebagai Simbol.

Esensi dari sebuah lilin adalah “lilin” itu sendiri sebagai “api” atau “terang” yang menjadi simbol kehadiran Tuhan. Nyala api dari semak duri di Gunung Sinai, tiang api di padang gurun, api altar di Bait Suci Yerusalem, adalah beberapa contoh kejadian yang dapat dibaca di Kitab perjanjian Lama.
Umat Kristen mula-mula, memberikan arti tentang api atau terang itu sebagai simbol kehadiran Yesus, Tuhan yang telah bangkit dari kematian, sebagai “tiang api yang baru.” Di Yerusalem, mereka mempunyai kebiasaan untuk menyalakan lilin setiap Sabtu malam, (diduga) mengikuti kebiasaan umat Yahudi saat mengakhiri Sabat.
Baru di sekitar abad 5/6 Masehi, kebiasaan ini kemudian menjadi bagian dari ritual kebangkitan Yesus dan menjadi bagian dari liturgi gereja di berbagai negara dan bangsa.
Seperti yang juga kita lihat di gereja-gereja yang memiliki (meja) altar, simbol kebangkitan dan kehadiran Yesus dinyatakan melalui lilin yang senantiasa menyala di altar; itulah Lilin Paska. Aturan ini tentu akan berbeda dan bervariasi, sesuai dengan denominasi gereja, termasuk juga yang secara khusus menyelenggarakan ibadah penyalaan Lilin Paska yang akan tetap menyala di sepanjang Masa Raya paska.

2.  Lilin Masa Pra Paska (MPP).

Jumlah Lilin MPP.
Masa Raya Paska diawali dengan MPP yang berlangsung selama 40 hari dengan enam (6) hari Minggu di dalam masa tersebut (lih. Warta Jemaat 31 jan 2016). Oleh karenanya, banyak gereja, termasuk gereja kita, yang memasang enam (6) buah lilin selama MPP (cat.: ada juga gereja yang memasang tujuh (7) buah lilin, dimana lilin terakhir merupakan simbol Jumat Agung).

Arti Pemasangan Lilin MPP.
Sebagaimana telah kita imani, MPP adalah masa penyesalan, peringatan akan sengsara Tuhan Yesus. MPP sekaligus menjadi titik tolak perubahan, pembaruan dan pertumbuhan rohani, sebagai eskalasi kearah karya penyelamatan umat manusia yang semakin dekat.
Enam (6) buah lilin yang dipasang selama MPP menjadi simbol penyesalan, peringatan sengsara Tuhan Yesus dan eskalasi kearah karya penyelamatan umat manusia.

Cara Pemasangan Lilin MPP.
Gereja mempunyai kebiasaan yang berbeda didalam memasang lilin MPP, meskipun pada umumnya banyak gereja melakukan dua (2) cara di bawah ini, baik salah satu ataupun bergantian pada setiap tahunnya.
Lilin dipasang dan dinyalakan satu per satu. Di awal kebaktian, lilin dinyalakan satu per satu setiap minggu, sehingga enam (6) lilin menyala semua pada MPP 6 (Minggu Palem). Praktik ini ingin menyatakan bahwa di dalam masa penyesalan ini, umat pun masih mempunyai harapan karena melihat “terang” (baca: karya penyelamatan umat manusia oleh Yesus). Dari minggu ke minggu, “terang” itu menjadi semakin besar dan semakin dekat, dengan puncaknya di Minggu Paskah.
Lilin dipasang, dinyalakan semua dan dipadamkan satu per satu. Sebelum kebaktian, semua lilin dinyalakan. Di awal kebaktian, lilin dimatikan satu per satu setiap minggu. Praktik ini ingin menyatakan bahwa di dalam masa penyesalan ini, umat diingatkan keadaan manusia yang dikuasai kegelapan. Setiap hari kita bertambah jahat dan semakin jauh dari “terang.” Sampai akhirnya di MPP 6 (Minggu palem) semua lilin mati. Pupuslah harapan umat manusia!
Hilangnya harapan manusia yang dikuasai dosa tak terperikan itu menimbulkan belas kasihan Allah dengan mengutus Yesus turun, melepas nyawa untuk menyelamatkan umat manusia. Karya penyelamatan ini juga menjadi karya pemulihan hubungan antara Allah dengan manusia.


Sumber:
1.   www. elca.org

5.   Beberapa sumber lainnya yang digali untuk ide tulisan.

Sunday, December 27, 2015

Drama Natal 2015 - GKI Taman Aries

Pada Kebaktian & Perayaan Natal 2015, Liturgi GKI Taman Aries menyampaikan Pemberitaan Firman Allah dalam bentuk persembahan drama Natal dengan judul:

DIMANA YESUS?

Naskah drama diadaptasi dari naskah yang berjudul: AWAY FROM A MANGER, karya Rachel Benjamin and Suzanne Davis.

Beberapa foto pementasan dapat dilihat pada tautan/ link berikut:
https://www.facebook.com/BanyakGaul/media_set?set=a.10207076893813519&type=3&pnref=story

Berikut ini adalah naskah drama dimaksud, dengan harapan dapat bermanfaat bagi umat. L'Shalom.




























Bagi yang menginginkan naskah PDF, silahkan kontak saya.