Saturday, May 3, 2014

Doa Abadi - 2

Doa Abadi - 1 (pada posting sebelumnya) merupakan bagian yang sering dikutip dan dipajang dengan pigura indah oleh banyak orang tanpa tahu kalau itu bagian dari sebuah doa?.
Naskah doa selengkapnya nampak di bawah ini.

God, give us grace to accept with serenity
the things that cannot be changed,
Courage to change the things
which should be changed,
and the Wisdom to distinguish
the one from the other.
Living one day at a time,
Enjoying one moment at a time,
Accepting hardship as a pathway to peace,
Taking, as Jesus did,
This sinful world as it is,
Not as I would have it,
Trusting that You will make all things right,
If I surrender to Your will,
So that I may be reasonably happy in this life,
And supremely happy with You forever in the next.
Amen.

Doa di atas ditulis sekitar 1930/1940an oleh Reinhold Niebuhr (1892-1971), seorang ahli teologi, sebagai bagian dari naskah khotbahnya saat itu.


Doa Abadi - 1

Tuhan berikanlah aku kemurahan hati dengan rasa pasrah,
agar dapat menerima hal yang aku tidak kuasa untuk mengubah;
rasa berani,
agar mampu melakukan perubahan yang hakiki;
dan kebijakan,
agar faham atas apa yang berpadan.

Menurutmu, Siapakah Sesamamu? (5)

ANDOY, SAHABAT YESUS.
Ada seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam keadaan apapun. Ia tinggal di suatu desa Milaor, Camarines Sur, di Filipina.
Setiap hari, untuk sampai ke sekolahnya, ia harus berjalan kaki melintasi daerah yang tanahnya berbatu dan menyeberangi jalan raya yang ramai dan berbahaya karena banyak kendaraan yang melaju kencang. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, Andoy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk berdoa.
Setiap saat pula, Andoy juga tidak lupa menyapa Pendeta, katanya:”Magandang umaga po.” (Tagalog, dialek Biscol: “Selamat pagi.”). Pendeta Agaton membalas: “Kumusta Andoy! Papasokan na?.” (“Apa khabar Andoy! Sudah mau masuk [sekolah]?”). “Opo” (“Ya”), jawabnya dengan santun.
Perilaku Andoy ini diamati oleh Pendeta Agaton yang merasa terharu dengan sikap Andoy yang santun dan beriman tersebut. Suatu pagi ketika Andoy hendak masuk ke Gereja, Pendeta Agaton menyapanya.
Pendeta Agaton: “Sepulang sekolah, singgahlah dahulu ke gereja, karena mulai sekarang saya akan membantu kamu menyeberangi jalan raya tersebut.
Andoy : “Terima kasih, Bapa Pendeta
Pendeta Agaton: “Mengapa engkau belum pulang? Sekarang apa yang akan kamu lakukan?
Andoy : “Aku hanya ingin menyapa lagi Tuhan Yesus... sahabatku.
Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian menyelinap di balik altar untuk mendengarkan apa yang dikatakan Andoy.
Andoy mulai berbicara kepada Sahabatnya.
"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman-temanku melakukannya.
Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue kering ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya…. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sandalku yang terakhir…. mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sandal. Engkau tahu Tuhan sandal ini akan rusak, tapi tak mengapa…. yang terpenting aku masih dapat pergi ke sekolah.
Tuhanku kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong Yesus, bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu? Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Yesus??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, di sini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya). Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan cemas akan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku... Itulah mengapa dia memukulku.
Oh ya.. Tuhan, aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis cantik di kelasku, namanya Anita… menurut-Mu apakah dia menyukaiku? Ah… bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hati-Mu.  Engkau adalah sahabatku.
Hei…., ulang tahun-Mu tinggal dua hari lagi ‘kan?, tidakkah Engkau gembira? Tunggu saja nanti hadiah kejutan untuk-Mu; aku harap Engkau menyukainya. Ooops, aku harus pergi sekarang. Selamat siang.
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.
Andoy: "Pak Pendeta, Pak Pendeta…. aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Yesus, sekarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!.”
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari dan Andoy tidak pernah absen sekalipun.
Suatu hari, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Oleh karenanya, ketika Andoy masuk gereja, ia tidak mendapatkannya.
Andoy: "Di manakah Bapa Pendeta? Dia biasanya membantuku menyeberangi jalan raya… dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya."
Andoy sedih, bingung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyeberangi jalan raya tersebut sendirian.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy, sambil menyimpan hadiah tadi di dalam bajunya, mulai menyeberang sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba braaakkk... (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.
Sedih.... saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andoy dan menangis. Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya: "Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda  mengenalnya ?."
Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata: "Anak ini namanya Andoy, dia adalah sahabat-Ku."
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh di dadaNya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan itu dan dia datang ke rumah Andoy. Ketika Pendeta Agaton bertemu dengan orangtua Andoy ia bertanya: "Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?."
Ibu Andoy menjawab sambil menghapus air matanya: “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.”
Pendeta Agaton bertanya lagi: “Apa katanya?
Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu,” jawab ayah Andoy.
PendetaAgaton: “Apa yang dikatakannya?
Ayah Andoy menjawab: “Dia berkata terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu, engkau akan bersama-Ku.” dan, sang ayah melanjutkan,Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah… aku menangis karena bahagia... aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku tahu puteraku sudah berada di surga sekarang. Tapi Pak Pendeta, tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya, karena anda selalu berada di sana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal!

Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes di pipinya, dengan lutut gemetar Pendeta Agaton berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa... kecuali dengan Tuhan Yesus.” 

Menurutmu, Siapakah Sesamamu? (4)

MEMAAFKAN, Mudahkah?
(Cerita tentang Phan Thį Kim Phúc)
Saat perang Vietnam. Desa Trang Bang (30 menit di utara Saigon, bagian Vietnam Selatan saat itu) terletak di jalur logistik utama yang menghubungkan Saigon dan Pnom Penh. Karena desa ini sudah diserbu dan diduduki oleh pasukan Vietnam Utara, si upik Kim Phúc (9 tahun saat itu) dengan keluarga, sejumlah penduduk sipil dan rombongan tentara Vietnam Selatan keluar dari persembunyian di satu pagoda Cao Dai di Trang Bang untuk mengungsi.  Saat itu tgl 8 Juni 1972, seorang  officer militer Amerika telah merencanakan pemboman desa itu dengan pesawat yang dipiloti angkatan udara Vietnam Selatan.
Ketika terbang menuju ke sasaran, pilot sempat melihat rombongan ini, lalu membelokkan pesawatnya dan membom rombongan ini. Ternyata, tindakan pilot ini adalah suatu kesalahan, karena mengiranya sebagai rombongan musuh! Si upik Kim Phúc ini tidak tewas, tapi dua orang familinya dan beberapa penduduk lain tewas.
Dalam sepersekian detik, Nick Ut, fotografer AP sempat mengabadikan orang-orang yang berhamburan ini, termasuk si upik Kim Phúc yang berteriak histeris: "Nóng quá, Nóng quá!" (artinya "panas sekali").
Anak ini mengalami luka bakar yang sangat parah di punggungnya dan seluruh pakaiannya terbakar akibat bom napalm.
Foto si upik Kim Phúc yang telanjang sedang berlari-lari di jalan dengan kulitnya terluka bakar itu menjadi terkenal dan memenangi hadiah Pulitzer bagi Nick Ut.
Segera setelah itu, fotografer ini langsung melarikannya ke RS Barsky di Saigon, di mana para dokter memperkirakan ia tak akan hidup lama karena kondisi dan luas luka bakarnya. Namun demikian, sesudah menjalani masa 14 bulan perawatan, melalui 17 kali operasi dan bertahun-tahun terapi susulan akhirnya dia bisa pulih.
Dua puluh tahun kemudian ia menikah dengan pemuda Vietnam dan berbulan madu di Moscow. Saat pesawatnya menuju kembali ke Kuba, dan mampir di New Foundland untuk mengisi bahan bakar, mereka melarikan diri untuk memperoleh suaka politik  Canada. Kim Phúc beserta suami dan dua orang anaknya telah menjadi warga negara Canada dan menetap di Toronto.
Ada satu hal yang menarik pada salah satu bagian pidatonya saat  diundang ke Washington pada tahun 1996. Di depan ribuan veteran tentara AS pada perang Vietnam Kim Phúc berkata: "Seandainya saya bisa bertatap muka dengan pilot pembom itu, saya akan bilang, kita tidak bisa mengubah sejarah. Tapi kita bisa berbuat baik untuk hari ini dan hari yang akan datang demi perdamaian." Seorang hadirin, John Plummer, menulis di kertas: "I am that man," dan meminta petugas meneruskannya ke Kim Phúc.
Setelahnya, si bekas komandan yang mengaku mem-berikan perintah pemboman itu menemuinya dan meminta maaf. Keduanya berpelukan dan Kim Phúc memaafkannya.

Berikut ini adalah pernyataan pribadi Kim Phúc tentang apa yang dia alami.

“Seusai dirawat di rumah sakit sekian lama, hatiku merasa sesak saat kembali ke rumah. Tempat kediamanku hancur lebur, semua yang kumiliki musnah. Apa yang kulakukan kini hanyalah untuk menyambung hidup, dari hari ke hari.
Kendati rasa ngilu, nyeri dan sakit kepala menjadi beban berkepanjangan, namun masa pemulihan yang panjang di rumah sakit itu menguatkan mimpiku untuk menjadi seorang dokter. Saya memang sempat menjalani sekolah kedokteran sesuai dengan mimpiku itu, namun harus kulepaskan di tengah jalan.
Kemarahan yang tersimpan di hatiku karena peristiwa itu terpendam dan menggumpal  menjadi kebencian yang memuncak setinggi gunung! Aku membenci hidup, aku membenci orang lain dan aku berkali-kali ingin mati!
Kuhabiskan hari-hariku di perpustakaan, melahap berbagai buku rohani untuk mengetahui dan memastikan tujuan hidupku. Salah satu dari banyak buku yang aku baca adalah Alkitab.
Pada peringatan Natal tahun 1982, aku menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatku. Saat itulah yang telah menjadi titik balik yang luar biasa bagi kehidupanku. Allah telah menolongku untuk belajar mengampuni — sebuah pelajaran yang amat sangat susah untuk dijalankan. Belajar untuk mengampuni itu tidak dapat dilakukan dalam satu hari, di samping juga bukan merupakan suatu hal yang mudah. Namun akhirnya aku dapat melakukan itu.
Bom Napalm memang mempunyai kekuatan yang luar biasa, namun iman, pengampunan dan kasih lebih adidaya. Kita tidak akan pernah mengalami kejamnya peperangan jika setiap orang dapat belajar tentang bagaimana hidup dengan kasih sejati, pengharapan dan pengampunan.
Jika Si Upik di dalam gambar tersebut di atas dapat melakukannya, silakan bertanya kepada diri sendiri: Mampukah aku?”



Pengampunan itu telah menjadikan aku bebas dari rasa benci.
Aku masih memiliki
banyak bekas luka di tubuhku
selain rasa ngilu yang berkepanjangan,
namun hatiku
telah dicuci bersih
dari rasa benci.

(Kim Phúc, NPR, 2008)

Menurutmu, Siapakah Sesamamu? (3)

JEBAKAN TIKUS
Petani dan istrinya sedang membuka sebuah bungkusan dan seekor tikus mengintip dari celah retakan tembok. "Ada makanan apa di dalamnya, ya?" pikir Si Tikus. Dia kaget setengah mati, ternyata isinya jebakan tikus. Si Tikuspun lari keluar dan memberi peringatan: "Ada jebakan tikus di dalam! Ada jebakan tikus  di dalam rumah !"
Seekor ayam yang sedang mengais tanah, mengangkat lehernya dan bilang: "Tuan Tikus, saya hanya bisa bilang, ini liang kubur untukmu, nggak ada urusannya dengan saya. Jangan ganggu saya dong!."
Lalu Si Tikus mengarah ke kambing dan berkata: "Ada jebakan! Jebakan tikus dalam rumah!" Kambing agak bersimpati, dan menjawab: "Mohon maaf, Tuan Tikus, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa. Percayalah, kamu ada dalam doaku."
Si Tikus lalu menuju ke sapi dan berkata: "Ada jebakan, ada jebakan tikus di situ!" Dan sapi menjawab: "Wah... Tuan, maaf, maaf, nggak ada urusannya sama saya."
Dengan lemas Si Tikus kembali ke rumah itu, kepala merunduk dan hilang semangatnya karena harus berhadapan dengan jebakan petani itu sendirian.
Di malam yang tenang itu, terdengar suara, seperti jebakan tikus menjepret korbannya. Istri petani datang untuk melihat hasilnya. Di dalam kegelapan, ia tidak tahu kalau perangkap tikus itu telah menjepit buntut seekor ular. Ular menggigit istri petani itu. Petani buru-buru membawanya ke rumah sakit dan kembali ke rumah dengan istri dalam keadaan demam.
Orang-orang pun tahu, menurunkan demam biasanya dengan makan sop ayam hangat. Petani menangkap ayam, memotongnya dan dagingnya dijadikan bahan sop. Namun, sakitnya tetap berlanjut. Setiap hari para tetangga datang menengoknya dan ngobrol cukup lama dekat ranjangnya. Untuk memberi makan para tamu itu, dipotonglah kambing. Tidak sembuh-sembuh juga, akhirnya istri petani meninggal. Begitu banyak tetangga dan famili melayat, sehingga petani harus memotong sapinya untuk memberi hidangan bagi mereka.
Selama berhari-hari Si Tikus, dengan sangat sedih, mengintip semua kejadian ini dari celah tembok. Ancaman yang dia rasakan dan dia sampaikan kepada rekan-rekannya tidak mereka pahami. Semua teman-temannya yang diharapkan solider, bahkan binasa.
Jika saudara memahami cerita di atas dan berpikir hal itu tidak tidak berhubungan dengan saudara, ingatlah!
Kita semua ada di dalam rombongan perjalanan, yaitu perjalanan hidup. Kita harus saling memperhatikan dan mendukung satu dengan yang lain, karena setiap diri kita merupakan benang pakan utama bagi tenunan indah orang lain. Semoga!.


Tidak adanya rasa damai
bersumber dari kealpaan kita
bahwa kita semua ini saling memiliki.
(Bunda Teresa)

Menurutmu, Siapakah Sesamamu? (2)

Ayah Seorang Marinir.
Senja itu seorang perawat mengantar seorang perwira AL muda yang tampak lelah namun dipenuhi rasa ingin tahu, ke tepi ranjang seorang pasien.
"Anakmu ada di sini," katanya kepada bapak tua yang sedang terbaring. Si perawat mengulangi kalimat itu beberapa kali, sampai akhirnya pasien itu membuka matanya.
Karena masih dalam pengaruh obat akibat serangan jantungnya, pasien tersebut hanya bisa samar-samar melihat adanya seorang Perwira AL muda berseragam yang berdiri di samping ranjangnya. Ia menyorongkan tangannya. Perwira muda itu mendekapkan jari-jarinya ke kepalan tangan orang tua itu, serta meremasnya sebagai tanda kasih dan dukungan semangat. Perawat kemudian menyorongkan kursi kepada perwira itu untuk duduk dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Sepanjang malam perwira tersebut duduk di situ dalam sinar lampu yang temaram, menggenggam tangan si pasien tua sambil mengungkapkan kata-kata sayang dan penguatan. Setiap kali perawat datang memeriksa keadaan pasien selalu sambil menyarankan perwira muda itu untuk beristirahat sebentar tapi selalu ditolaknya. Perwira muda itu tidak perduli terhadap suara berisiknya rumah sakit: benturan tangki oksigen, tawa perawat yang tugas malam, tangisan dan erangan pasien-pasien lainnya. Setiap kali yang diperhatikan dan dilihat perawat bahwa perwira muda tersebut selalu berbicara menyampaikan kata-kata lembut kepada pasien tua yang terpejam diam menanti ajalnya. Jemari keduanya saling menggenggam erat sepanjang malam.
Menjelang fajar, pasien tua itu pun wafat. Perwira muda itu melepaskan genggaman tangannya dan beranjak ke luar kamar menuju meja perawat untuk memberitahukannya. Para perawat pun segera sibuk melakukan persiapan, sementara perwira muda tersebut menunggu.
Si perawatpun mendatanginya seraya menyampaikan rasa duka dan simpatinya, tapi perwira itu memotong bicaranya.
"Sebetulnya, siapakah bapak itu?" tanyanya kepada si perawat.
Perawat terkesima, "Dia ayahmu," jawabnya.
"Tidak, dia bukan ayahku," sergah si perwira,
"Saya belum pernah melihat dia seumur hidup saya," lanjutnya.
Perawat yang kebingungan itu pun bertanya, "Lalu, kenapa Anda tidak bilang ketika saya bawa anda kepada dia?".
Sambil tersenyum perwira muda itu pun menjawab, "Saya tahu kalau telah terjadi kesalahan, tapi saya juga tahu bapak itu membutuhkan anaknya, sementara itu anaknya tidak ada di sini. Ketika saya mengetahui dia terlalu parah untuk mengenali bahwa saya anaknya atau bukan, maka saya menyadari betapa dia sangat membutuhkan anaknya, dan saya pun memutuskan untuk tetap di sampingnya."


Menurutmu, Siapakah Sesamamu? (1)

Gosip SOCRATES
(Bahan perenungan dan refleksi pribadi)

Socrates adalah sosok yang dikenal sebagai ahli filsafat dari masa Yunani kuno. Pada suatu hari, seorang kenalan menemuinya dan berkata, “Tahukah Tuan apa yang saya dengar tentang sahabat Tuan?”
“Tunggu dulu!,” Socrates memotong. “Sebelum saudara menyampaikan perihal apapun kepada saya, saya ingin saudara menjawab tiga pertanyaan sederhana.”
“Tiga pertanyaan sederhana?,” tanya si kenalan tadi.
“Betul; tiga pertanyaan sederhana.” Socrates menukas. “Sebelum saudara berbicara tentang sahabat saya tadi, tolong pikirkan tentang apa yang akan saudara katakan. Pertanyaan pertama saya adalah tentang KEBENARAN. Apakah saudara sangat yakin bahwa apa yang akan saudara katakan itu adalah BENAR?”
“Tidak sih,” kenalannya tersebut menimpali, “Saya hanya mendengarnya dari orang lain dan …”
“Baik,” potong Socrates. “Jadi saudara tidak yakin apakah hal itu benar atau tidak. Sekarang jawablah pertanyaan ke dua, yaitu tentang KEBAIKAN. Apakah hal yang akan saudara ceritakan kepada saya tentang sahabat saya itu adalah sesuatu yang baik?”
“Nggak sih, bahkan sebaliknya …”
“Jadi,” lanjut Socrates, “Saudara ingin memberitahu saya sesuatu yang buruk tentang sahabat saya, namun saudara juga tidak yakin akan kebenarannya."
"Satu lagi pertanyaan saya yang terakhir, yaitu tentang KEMANFAATAN. Apakah hal yang akan saudara ceritakan kepada saya tentang sahabat saya itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi saya?”
“Nggak sih, sama sekali tidak …”
“Nah,” simpul Socrates, “Jika apa yang saudara ingin beritahukan kepada saya adalah sesuatu yang saudara sendiri ragu akan kebenarannya, belum tentu baik dan mungkin tidak bermanfaat, jadi kenapa saudara harus repot-repot ingin memberitahukannya kepada saya?”

(Sumber: Testing For Gossip, http://www.rogerdarlington.me.uk/stories.html).

Suplikasi 15

Tuhan, dalam kasih-Mu,
telinga kubuka, laku kutiru,
tamparan kuterima, ampun kuseru!

(Yesaya 50 : 4 – 9a; Yohanes 13 : 21 – 32; Ibrani 12 : 1 – 3; Mazmur 70).

Suplikasi 14

Aku adalah sampah, ketika Tuhan panggil,
     aku pongah, ketika Allah sentil.

          Pertolongan-Mu,
               membuat aku rindu bersekutu.

(Yesaya 49 : 1 – 7; Yohanes 12 : 20 – 36; I Korintus 1 : 18 – 31; Mazmur 71 : 1 – 14).

Suplikasi 13

Ya Tuhan,
sampai ke langit kasih-Mu,
ke awan setia-Mu
karya penebusan-Mu tidak pandang bulu.

Persembahan yang tak bercacat,
telah menanggung dosaku yang likat pekat.

(Yesaya 42 : 1 – 9; Yohanes 12 : 1 – 11; Ibrani 9 : 11 – 15; Mazmur 36 : 5 – 11).

Suplikasi 12


Tuhan,
Kami merindukan negeri yang tentram,
Jauhkanlah sumpah serapah dan gertak geram,
dari negeri kami ini yang sedang kelam,
sehingga teduh dan nyaman,
menjadi tempat-Mu bersemayam.

(Yeremia 33 : 10 – 16; Markus 10 : 32 – 34, 46 – 52.).

Suplikasi 11

Ya Allah,
Tiada pernah lelah
Engkau merengkuh yang salah,
kami pendurhaka, si penjarah,
yang telah menjadi cacing tanah,
Engkau beri berkah limpah dan salamah.

(Filipi 2 : 12 – 18; Yeremia 33 : 1 – 9).