Showing posts with label KONTEMPLASI. Show all posts
Showing posts with label KONTEMPLASI. Show all posts

Thursday, February 18, 2016

Lilin Masa Raya Paska

LILIN MASA RAYA PASKA
Kesejarahan & Praktek

Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita jumpai simbol/ lambang. Kita menggunakannya (simbol uang: Rp, £, €, ¥), memakainya (logo merek ternama) dan bahkan mematuhinya (tanda lalu-lintas). Demikian juga di dalam kehidupan bergereja banyak simbol yang kita kenal dan pergunakan, baik sebagai pengingat, penguat maupun sebagai identitas. Simbol-simbol tersebut, diantaranya seperti: salib, altar & perlengkapannya, warna, liturgi, termasuk juga penggunaan lilin.
Di dalam gereja, lilin hampir selalu dipergunakan baik pada kegiatan kebaktian minggu biasa maupun pada kegiatan kebaktian istimewa, seperti kebaktian pernikahan, kebaktian di Masa Raya Natal, demikian juga pada kebaktian di Masa Raya Paska, masa yang saat ini sedang kita masuki.

1.   Lilin Sebagai Simbol.

Esensi dari sebuah lilin adalah “lilin” itu sendiri sebagai “api” atau “terang” yang menjadi simbol kehadiran Tuhan. Nyala api dari semak duri di Gunung Sinai, tiang api di padang gurun, api altar di Bait Suci Yerusalem, adalah beberapa contoh kejadian yang dapat dibaca di Kitab perjanjian Lama.
Umat Kristen mula-mula, memberikan arti tentang api atau terang itu sebagai simbol kehadiran Yesus, Tuhan yang telah bangkit dari kematian, sebagai “tiang api yang baru.” Di Yerusalem, mereka mempunyai kebiasaan untuk menyalakan lilin setiap Sabtu malam, (diduga) mengikuti kebiasaan umat Yahudi saat mengakhiri Sabat.
Baru di sekitar abad 5/6 Masehi, kebiasaan ini kemudian menjadi bagian dari ritual kebangkitan Yesus dan menjadi bagian dari liturgi gereja di berbagai negara dan bangsa.
Seperti yang juga kita lihat di gereja-gereja yang memiliki (meja) altar, simbol kebangkitan dan kehadiran Yesus dinyatakan melalui lilin yang senantiasa menyala di altar; itulah Lilin Paska. Aturan ini tentu akan berbeda dan bervariasi, sesuai dengan denominasi gereja, termasuk juga yang secara khusus menyelenggarakan ibadah penyalaan Lilin Paska yang akan tetap menyala di sepanjang Masa Raya paska.

2.  Lilin Masa Pra Paska (MPP).

Jumlah Lilin MPP.
Masa Raya Paska diawali dengan MPP yang berlangsung selama 40 hari dengan enam (6) hari Minggu di dalam masa tersebut (lih. Warta Jemaat 31 jan 2016). Oleh karenanya, banyak gereja, termasuk gereja kita, yang memasang enam (6) buah lilin selama MPP (cat.: ada juga gereja yang memasang tujuh (7) buah lilin, dimana lilin terakhir merupakan simbol Jumat Agung).

Arti Pemasangan Lilin MPP.
Sebagaimana telah kita imani, MPP adalah masa penyesalan, peringatan akan sengsara Tuhan Yesus. MPP sekaligus menjadi titik tolak perubahan, pembaruan dan pertumbuhan rohani, sebagai eskalasi kearah karya penyelamatan umat manusia yang semakin dekat.
Enam (6) buah lilin yang dipasang selama MPP menjadi simbol penyesalan, peringatan sengsara Tuhan Yesus dan eskalasi kearah karya penyelamatan umat manusia.

Cara Pemasangan Lilin MPP.
Gereja mempunyai kebiasaan yang berbeda didalam memasang lilin MPP, meskipun pada umumnya banyak gereja melakukan dua (2) cara di bawah ini, baik salah satu ataupun bergantian pada setiap tahunnya.
Lilin dipasang dan dinyalakan satu per satu. Di awal kebaktian, lilin dinyalakan satu per satu setiap minggu, sehingga enam (6) lilin menyala semua pada MPP 6 (Minggu Palem). Praktik ini ingin menyatakan bahwa di dalam masa penyesalan ini, umat pun masih mempunyai harapan karena melihat “terang” (baca: karya penyelamatan umat manusia oleh Yesus). Dari minggu ke minggu, “terang” itu menjadi semakin besar dan semakin dekat, dengan puncaknya di Minggu Paskah.
Lilin dipasang, dinyalakan semua dan dipadamkan satu per satu. Sebelum kebaktian, semua lilin dinyalakan. Di awal kebaktian, lilin dimatikan satu per satu setiap minggu. Praktik ini ingin menyatakan bahwa di dalam masa penyesalan ini, umat diingatkan keadaan manusia yang dikuasai kegelapan. Setiap hari kita bertambah jahat dan semakin jauh dari “terang.” Sampai akhirnya di MPP 6 (Minggu palem) semua lilin mati. Pupuslah harapan umat manusia!
Hilangnya harapan manusia yang dikuasai dosa tak terperikan itu menimbulkan belas kasihan Allah dengan mengutus Yesus turun, melepas nyawa untuk menyelamatkan umat manusia. Karya penyelamatan ini juga menjadi karya pemulihan hubungan antara Allah dengan manusia.


Sumber:
1.   www. elca.org

5.   Beberapa sumber lainnya yang digali untuk ide tulisan.

Saturday, April 25, 2015

Kalender Gerejawi



Jika memerlukan pengaturan khusus atas hal ini, silahkan anda meninggalkan pesan.

Should you need any specific requirements on this matter, kindly leave your message.

Saturday, March 14, 2015

Suplikasi Sabtu Sunyi 2015

T E M A:
Menghayati Kefanaan dengan Pengharapan Iman
LEKSIONARI:
Ayub 14 : 1 – 14; Mazmur 31 : 1 – 4, 15 – 16; 1 Petrus 4 : 1 – 8; Matius 27 : 57 – 66.
TUJUAN:
Umat mampu menghayati kefanaan dirinya dalam perspektif pengharapan iman, sehingga dimampukan menghadirkan keabadian kasih Allah dalam hidup sehari-hari.

Andaikata aku hidup di masa Tuhan Yesus,
Akankah aku menjadi pengikut-Nya yang setia?
Mengikut kemanapun Dia berjalan dan bermalam,
mendengarkan dan menyimak sabda-Nya.
Kata-kata-Nya sejuk, menghidupkan harapan kembali,
tatap mata-Nya lembut, melumerkan hati yang membesi.
Orang-orang berkata, Ia merubah air menjadi anggur,
Yang lain bercerita, Ia mencelikkan mata buta dengan liur.
Ikutkah aku karena terpukau pada perbuatan-Nya yang ajaib,
ataukah karena imanku kepada Dia yang akan melepaskanku dari dunia aib?
Ya Tuhan Yesus,
Jangan biarkan aku kering seperti air menguap dari dalam telaga,
Jangan jadikan aku seperti sungai surut sampai habis airnya,
hari demi hari, aku menunggu sampai masa pahitku reda.
………………………………………………………………………………………………

Andaikata aku hidup di masa Tuhan Yesus,
Akankah aku menjadi salah satu dari murid-Nya yang setia?
Mengikut kemanapun Dia berjalan dan berada,
dengan setia melayani-Nya, dengan sabar menerima orang mencerca.
Sabda Bahagia-Nya mencairkan ego diri sehingga rela melayani,
hardikan-Nya: “Hai iblis, enyahlah kau!” membukakan mata hati nurani.
Namun, salahkah aku untuk tetap berfikir sebagai manusia biasa,
durjanakah aku untuk mendamba Yesus sebagai Raja Dunia.
Mata batinku buta sehingga tidak kulihat, di bukit, Yesus dalam kemuliaan,
telinga nuraniku tuli untuk menyimak sabda-Nya sebagai nubuat pembebasan.
Ya Guru,
Aku berharap pada-Mu,
ya TUHAN, Engkaulah Allahku,
Engkau selalu memelihara aku.
………………………………………………………………………………………………


Aku hidup 2000 tahun sesudah Yesus; Aku hidup di masa kini.
Sudahkah aku menjadi pengikut sekaligus murid-Nya yang setia?
Aku sudah diajar, belajar dan mencoba mengerti,
tentang karya kasih Allah di dalam mencipta dan memelihara umat-Nya di bumi,
juga murka Allah terhadap umat-Nya yang menjauh lari.
Aku juga sudah diberitahu, mencari tahu dan berupaya mencerna,
sejauh apapun aku lari menghindar, sesabar itu pula tangan kasih-Nya terbuka,
Aku sudah diserahkan dan merelakan diri menyerah,
tak kuingat percikan dingin air baptis pada wajah tengadah,
tapi hingga kini kusadar, semua indra menggerakkan mulut mengikrar sumpah.
Aku ternyata sering lupa, keras kepala dan memberontak,
tidak seperti Yesus yang berpuasa dan membuat iblis terdepak,
aku menjadi burung pemakan bangkai dengan sayap ponggah mengepak.
Aku sudah sering disadarkan dan mencoba sadar, dalam kelu,
tidak seperti pengikut dan murid-Nya dahulu,
kebangkitan Yesus besok, aku tahu dan menunggu.

Ya Tuhan Allah Pencipta,
Ya Yesus Penebus dosa,
Segala sesuatu sudah mendekati kesudahannya,
mampukan aku menguasai diri dan waspada,
agar aku dapat senantiasa berdoa.
Diamlah di hati,
sehingga aku sungguh mampu mengasihi,
dan bersedia juga untuk mengampuni.

Saturday, January 17, 2015

One 4 All, All 4 One!

Semboyan diatas sangat populer dan kita, dari kanak-kanak hingga orang tua, pasti mengenalnya dari film “The Three Musketeers.”
Film itu merupakan adaptasi novel klasik Alexandre Dumas (1844) yang sejak tahun 1900 telah diproduksi lebih dari 30 versi (di luar kartun, komik dan serial).
Semangat semboyan itu adalah adanya empati yang tumbuh dalam kebersamaan didalam menghadapi suatu tantangan.
Tiga seri sebelumnya merupakan perenungan tentang kita sebagai kaki-tangan Tuhan Yesus untuk melayani sesama, tentang aksi empati yang telah dicontohkan dan dilakukan oleh gereja dan tentang kesiapan kita untuk melakukan revolusi mental dengan tindakan berempati tanpa menunggu orang lain melakukan.
Dengan demikian, semboyan itu dapat memiliki makna yang lebih dalam lagi!
“One For All” (satu untuk semua) merupakan pernyataan empatis universal Tuhan Allah melalui karya agung penebusan dosa oleh Tuhan Yesus! Sungguh merupakan suatu aksi empati total, yang secara manusiawi juga diteladankan oleh Abraham melalui keikhlasannya mengorbankan Ishak (lih. Kej. 22 : 7 – 12). Sedangkan “All For One” (semua untuk satu) dapat dimaknai sebagai kesanggupan umat untuk melakukan Hukum Kasih-Nya.
Di dalam keseharian, hal itu dapat kita lakukan dengan menggerakkan lingkungan kita yang terkecil, yaitu keluarga, sambil memupuk bibit empati bagi anak-anak. Kita dapat memulainya dengan menanamkan pengertian bahwa empati itu tidak semata-mata berarti berkorban. Berempati juga dapat memberikan kelegaan. Misalnya menyapa orang sekeliling saat di gereja dengan: “Shalom”, “Selamat pagi”, “Selamat hari Minggu.” Dapat juga kita ajarkan kepada anak kata dan tindakan berempati: “Prita, di depan itu kan tante Mini yang rumahnya kita lewati tiap hari? Coba ajak dia ikut mobil kita!” Atau disaat membeli jajanan di depan gereja: “Abdiel, bungkusan ini nanti kamu berikan si Wahyu, anak tukang warung dekat rumah kita ya!”
Itulah contoh-contoh sederhana yang sebenarnya merupakan inti konsep hidup sejahtera. Konsep hidup yang melampaui kekayaan, karena tidak ada harta di dunia yang dapat membeli kebahagiaan, kelegaan, kesenangan, kedamaian dan kepuasan hati. Ajaran Tuhan Yesus dalam Matius 5 kiranya dapat menjadi landasan iman kita.



Mari, kita jadikan diri kita sebagai “The All Musketeers,” dan berjuang dengan semboyan: “Unus Pro Omnibus, Omnes Pro Uno, Soli Deo Gloria!” (Satu untuk semua, semua untuk satu, hanya demi kemuliaan Tuhan!).

Revolusi Mental….!


Sudah banyak contoh empatis yang telah dilakukan oleh gereja secara nyata seperti yang sudah dibahas minggu lalu. Secara konsep juga ternyata sudah dilakukan dengan mengupayakan pembinaan untuk membangkitkan dan menumbuhkan empati. Komisi Anak dan Remaja berbagi rasa dengan berkunjung ke panti asuhan anak berkebutuhan khusus, Komisi Pemuda melakukan live-in (menginap dan beraktivitas) di sebuah panti asuhan dan Komisi Dewasa mempunyai jadwal tetap berkunjung ke sebuah panti wreda.
“Cukuplah itu semua!” kata sang isteri memecah konsentrasi saya. “Cukup?” kata saya karena kaget. “Ya cukuplah! Mau berapa banyak lagi kegiatan...” sambar dia berapi-api, tapi saya potong: “Sebentar Ma, ini kan sambungan renungan minggu lalu. Baca nggak yang minggu lalu?” “Baca dong! Itu kan soal bagaimana kita berempati pada orang lain?” jawab dia dengan bangga. Sambung saya: “Ya itulah, gereja telah memberikan contoh bagaimana berempati dan melakukan pembinaan untuk membangkitkan dan menumbuhkan empati. Sekarang giliran kitalah, sebagai gereja yang dipanggil ke luar, untuk berempati dan berbagi kepada orang-orang di sekitar kita.” Dengan tangkas isteri saya menukas: “Pa, gak gampang itu! Kalau kita gak pernah susah atau gak pernah bergaul dengan orang susah, jangankan berbagi, empati pun gak muncul! Saya pun terdiam.
Benar juga kata isteri saya kalau empati tidak akan muncul secara mendadak. Empati dibangun dan bertumbuh melalui pengalaman serta pengendapan sehingga menjadi bagian dari hati dan sikap mental kita.
Caranya? Dengan keberanian dan kesadaran penuh, kita melakukan “mental switch” (istilah tahun 80an yang disimbolkan dengan logo “On-Off” diatas) atau revolusi mental yang dipolulerkan Presiden Jokowi! Intinya adalah menjadikan diri kita sebagai orang Samaria yang baik hati dan melakukan hal yang baik, tanpa menunggu apakah orang lain melakukannya! Saya meyakini kalau mental switch itu merupakan praktek dari pepatah: “Nothing is easy, but nothing is impossible!” (tidak ada yang mudah, namun tidak ada yang mustahil didalam melakukan sesuatu).
Petunjuk lainnya? HUKUM KASIH (lih. Mat. 22 : 37 – 40) yang telah kita imani dan amini. Kita tentu tidak perlu menunggu dengan penuh kekagetan mendengarkan permintaan anak terkasih: “Pa, Ma, ulang tahun Jemima nanti di panti asuhan saja ya?!” 

Kasihan mereka ya….? (So what…..?!)

Gambar yang memilukan di atas saya peroleh berkat bantuan mBah Gugel saat menuliskan kata kunci: “kasihan mereka.” Bagi pecinta fotografi, pesan kemanusiaannya sangat kuat dari komposisi kakak yang memangku adik, keduanya kumal, sedang tidur dengan lelap beralas kardus kotor, sementara di depan mereka ada sebuah botol susu berisi air! Belum cukup? Masih ada garis  diagonal yang dengan tegas memisahkan dua warna kontras, seakan merupakan garis demarkasi nasib mereka!
Namun demikian, jika kita meminta bantuan mBah Gugel dengan kata kunci sama dalam bahasa Inggris: “(have) pity on them,” maka kita akan menemukan gambar-gambar tentang karya kasih Tuhan Yesus semasa hidup di dunia.

Sungguh sangat kontras!? Satu hal yang diungkap dengan bahasa yang berbeda ternyata berbeda juga hasilnya! “…pasti karena perbedaan budaya/peradaban!” celetuk saya tanpa sadar. “Ada apa, Pa? tanya anak bungsu saya yang duduk semeja sambil membaca e-book. Sambil menjelaskan temuan diatas, saya ajak dia berdiskusi. Tambah saya: “Bahasa kan pendukung dominan ada dan berkembangnya peradaban.....” “Aaah, sok ilmiah Papa ini” dia menukas. Lanjutnya: “Sederhana saja kok Pa, orang luar sono itu, yang kita bilang individualis dan egois, senyatanya adalah makhluk yang suka berempati dan berbagi! Nggak usahlah kita lihat berapa milyar dollar donasi Bill Gates, Warren Buffet, George Soros.… tapi ini Pa contoh sederhana bagaimana mereka berbagi: External harddisk satu tera ini 80% penuh dengan info gratis dan legal dari internet!” kata anak saya berapi-api. Saya pun menanggapi: “Bersyukurlah Papa tidak perlu keluar duit buat beli buku, hé, hé. Soal berbagi, kita juga nggak perlu jauh-jauh melihat ke seberang. Di kandang sendiri juga sudah banyak contoh: Klinik Karya Kasih, bantuan biaya sekolah, bantuan korban bencana, bantuan daerah tertinggal…..” Anak saya memotong: “OK Pa, kalau sudah jelas seperti itu ngapain dibahas lagi?” Jawab saya ringan: “Just do it! Dan LANJUTKAN!”

Sunday, January 4, 2015

Akukah Itu?



Sejak kecil, saya menggemari komik (juga kartun dan karikatur). Kecerdasan imaginer pencipta mampu menuangkan gagasan kedalam bentuk coretan gambar sederhana dan ekspresif dengan kalimat pesan yang padat pada ruang yang terbatas, seperti pada kartun di atas.
Konsentrasi saya terpecah di saat Nathan, cucu saya yang berusia 3 tahun, menarik tangan untuk meminta di pangku. Dia diam sejenak sambil mengamati layar komputer, namun tiba-tiba dia berbicara: Éyang (kakek), itu Tuhan Yesus ya?” dengan jarinya yang mungil menunjuk ke gambar di layar. “Kata Ibu Endang, Tuhan Yesus sayang pada anak-anak!” (rupanya dia masih ingat cerita ibu guru sekolah Minggu). “Eh, ehm…ya?!” jawab saya sambil terus mengetik. Merasa kurang diperhatikan, dia beringsut di pangkuan, memegang muka saya dan mengarahkan kontak mata dia dengan saya, kemudian berbicara: “Eyang, eyang! Lihat itu, Tuhan Yesus sedih ya?” Jawab saya: “Betul, Tuhan Yesus nampak sedih! Lihat, dengan wajah sedih Dia memeluk gedung gereja!”
Nathan: “Tidak memeluk orang dan anak-anak ya eyang?”
Eyang: “Nggak ada tuh! Orang-orang lebih suka di dalam gereja karena nyaman; kan pakai AC!”  
Perbincangan terputus ketika dia diajak mamanya tidur siang.
Kembali ke laptop! Secara jujur (meski pahit), kita memang harus mengakui bahwa kita merasa  nyaman berada di dalam gereja, mencari “keselamatan”!
Lhoh?! Bukankah kita ini orang Kristen, pengikut Kristus, orang-orang yang dipilih oleh Kristus untuk DISELAMATKAN, sehingga kita juga sudah menjadi bagian tubuh Kristus? (lih. Kol. 1 : 8).
Kini semakin jelas konstelasinya; Kristus adalah kepala dan kita sebagai anggota tubuh-Nya (lih. Rm. 12 : 4 – 5), seperti visualisasi gambar dibawah ini.


Satu hal lagi; Kita tentu masih ingat KJ 257 – “Aku Gereja, Kau Pun Gereja.” Meskipun hampir tidak pernah dinyanyikan di kebaktian Minggu, kita tetap bisa menyanyikannya karena dulu pernah diajarkan di sekolah Minggu. Apa yang menginspirasi penciptaan lagu ini? Injil Yohanes 2 : 21 mengajarkan kepada kita bahwa tubuh Kristus itulah Rumah Tuhan dimana kita adalah bagian dari Rumah Tuhan. Jadi, saudara,  saya, kita, adalah GEREJA itu!
Ha, ha, ha! Sekarang jelaslah bagi saya arti pesan gambar kartun “Tuhan Yesus bersama sahabat maya-Nya.” Kartun itu memuat pesan: JERUK makan JERUK! Ada gereja (orang-orang Kristen) di dalam (gedung) gereja! LLL!
“Hi, hi, hi, pantes aja Tuhan Yesus tampak sedih dan loyo!” suara renyah isteri terdengar di belakang saya. Sambung saya: “Ya itu, jeruk mangan jeruk…kita ini kan sukanya ngupleeek…aja di dalam. Bikin sendiri, dinikmati sendiri… sampai gak tahu kalau taman di depan gereja sudah ludes dilalap belalang kelaparan”. Lanjut saya: “Gereja, maksud saya kita orang Kristen, kan harus keluar! Seperti maksud kata aselinya EKLESIA, kita itu adalah orang-orang yang dipanggil keluar! Menjadi tangan-tangan dan kaki-kaki Tuhan Yesus untuk melayani dunia, melayani sesama!” Isteriku diam, namun tiba-tiba nyeletuk: Èh Pa, aku jadi teringat khotbah seorang pendeta di GKITA tahun lalu. Beliau berkata akan lebih senang kalau melihat gereja kosong, sementara jemaat yang notabene adalah gereja-gereja pergi keluar melayani.” Kata saya, sambil menutup tulisan: “Ya begitulah maksudnya; keluarlah dan lakukan sesuatu bagi sesama!” 



Saturday, May 3, 2014

Doa Abadi - 2

Doa Abadi - 1 (pada posting sebelumnya) merupakan bagian yang sering dikutip dan dipajang dengan pigura indah oleh banyak orang tanpa tahu kalau itu bagian dari sebuah doa?.
Naskah doa selengkapnya nampak di bawah ini.

God, give us grace to accept with serenity
the things that cannot be changed,
Courage to change the things
which should be changed,
and the Wisdom to distinguish
the one from the other.
Living one day at a time,
Enjoying one moment at a time,
Accepting hardship as a pathway to peace,
Taking, as Jesus did,
This sinful world as it is,
Not as I would have it,
Trusting that You will make all things right,
If I surrender to Your will,
So that I may be reasonably happy in this life,
And supremely happy with You forever in the next.
Amen.

Doa di atas ditulis sekitar 1930/1940an oleh Reinhold Niebuhr (1892-1971), seorang ahli teologi, sebagai bagian dari naskah khotbahnya saat itu.


Doa Abadi - 1

Tuhan berikanlah aku kemurahan hati dengan rasa pasrah,
agar dapat menerima hal yang aku tidak kuasa untuk mengubah;
rasa berani,
agar mampu melakukan perubahan yang hakiki;
dan kebijakan,
agar faham atas apa yang berpadan.

Menurutmu, Siapakah Sesamamu? (5)

ANDOY, SAHABAT YESUS.
Ada seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam keadaan apapun. Ia tinggal di suatu desa Milaor, Camarines Sur, di Filipina.
Setiap hari, untuk sampai ke sekolahnya, ia harus berjalan kaki melintasi daerah yang tanahnya berbatu dan menyeberangi jalan raya yang ramai dan berbahaya karena banyak kendaraan yang melaju kencang. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, Andoy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk berdoa.
Setiap saat pula, Andoy juga tidak lupa menyapa Pendeta, katanya:”Magandang umaga po.” (Tagalog, dialek Biscol: “Selamat pagi.”). Pendeta Agaton membalas: “Kumusta Andoy! Papasokan na?.” (“Apa khabar Andoy! Sudah mau masuk [sekolah]?”). “Opo” (“Ya”), jawabnya dengan santun.
Perilaku Andoy ini diamati oleh Pendeta Agaton yang merasa terharu dengan sikap Andoy yang santun dan beriman tersebut. Suatu pagi ketika Andoy hendak masuk ke Gereja, Pendeta Agaton menyapanya.
Pendeta Agaton: “Sepulang sekolah, singgahlah dahulu ke gereja, karena mulai sekarang saya akan membantu kamu menyeberangi jalan raya tersebut.
Andoy : “Terima kasih, Bapa Pendeta
Pendeta Agaton: “Mengapa engkau belum pulang? Sekarang apa yang akan kamu lakukan?
Andoy : “Aku hanya ingin menyapa lagi Tuhan Yesus... sahabatku.
Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian menyelinap di balik altar untuk mendengarkan apa yang dikatakan Andoy.
Andoy mulai berbicara kepada Sahabatnya.
"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman-temanku melakukannya.
Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue kering ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya…. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sandalku yang terakhir…. mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sandal. Engkau tahu Tuhan sandal ini akan rusak, tapi tak mengapa…. yang terpenting aku masih dapat pergi ke sekolah.
Tuhanku kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong Yesus, bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu? Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Yesus??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, di sini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya). Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan cemas akan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku... Itulah mengapa dia memukulku.
Oh ya.. Tuhan, aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis cantik di kelasku, namanya Anita… menurut-Mu apakah dia menyukaiku? Ah… bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hati-Mu.  Engkau adalah sahabatku.
Hei…., ulang tahun-Mu tinggal dua hari lagi ‘kan?, tidakkah Engkau gembira? Tunggu saja nanti hadiah kejutan untuk-Mu; aku harap Engkau menyukainya. Ooops, aku harus pergi sekarang. Selamat siang.
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.
Andoy: "Pak Pendeta, Pak Pendeta…. aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Yesus, sekarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!.”
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari dan Andoy tidak pernah absen sekalipun.
Suatu hari, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Oleh karenanya, ketika Andoy masuk gereja, ia tidak mendapatkannya.
Andoy: "Di manakah Bapa Pendeta? Dia biasanya membantuku menyeberangi jalan raya… dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya."
Andoy sedih, bingung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyeberangi jalan raya tersebut sendirian.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy, sambil menyimpan hadiah tadi di dalam bajunya, mulai menyeberang sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba braaakkk... (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.
Sedih.... saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andoy dan menangis. Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya: "Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda  mengenalnya ?."
Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata: "Anak ini namanya Andoy, dia adalah sahabat-Ku."
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh di dadaNya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan itu dan dia datang ke rumah Andoy. Ketika Pendeta Agaton bertemu dengan orangtua Andoy ia bertanya: "Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?."
Ibu Andoy menjawab sambil menghapus air matanya: “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.”
Pendeta Agaton bertanya lagi: “Apa katanya?
Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu,” jawab ayah Andoy.
PendetaAgaton: “Apa yang dikatakannya?
Ayah Andoy menjawab: “Dia berkata terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu, engkau akan bersama-Ku.” dan, sang ayah melanjutkan,Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah… aku menangis karena bahagia... aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku tahu puteraku sudah berada di surga sekarang. Tapi Pak Pendeta, tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya, karena anda selalu berada di sana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal!

Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes di pipinya, dengan lutut gemetar Pendeta Agaton berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa... kecuali dengan Tuhan Yesus.” 

Menurutmu, Siapakah Sesamamu? (4)

MEMAAFKAN, Mudahkah?
(Cerita tentang Phan Thį Kim Phúc)
Saat perang Vietnam. Desa Trang Bang (30 menit di utara Saigon, bagian Vietnam Selatan saat itu) terletak di jalur logistik utama yang menghubungkan Saigon dan Pnom Penh. Karena desa ini sudah diserbu dan diduduki oleh pasukan Vietnam Utara, si upik Kim Phúc (9 tahun saat itu) dengan keluarga, sejumlah penduduk sipil dan rombongan tentara Vietnam Selatan keluar dari persembunyian di satu pagoda Cao Dai di Trang Bang untuk mengungsi.  Saat itu tgl 8 Juni 1972, seorang  officer militer Amerika telah merencanakan pemboman desa itu dengan pesawat yang dipiloti angkatan udara Vietnam Selatan.
Ketika terbang menuju ke sasaran, pilot sempat melihat rombongan ini, lalu membelokkan pesawatnya dan membom rombongan ini. Ternyata, tindakan pilot ini adalah suatu kesalahan, karena mengiranya sebagai rombongan musuh! Si upik Kim Phúc ini tidak tewas, tapi dua orang familinya dan beberapa penduduk lain tewas.
Dalam sepersekian detik, Nick Ut, fotografer AP sempat mengabadikan orang-orang yang berhamburan ini, termasuk si upik Kim Phúc yang berteriak histeris: "Nóng quá, Nóng quá!" (artinya "panas sekali").
Anak ini mengalami luka bakar yang sangat parah di punggungnya dan seluruh pakaiannya terbakar akibat bom napalm.
Foto si upik Kim Phúc yang telanjang sedang berlari-lari di jalan dengan kulitnya terluka bakar itu menjadi terkenal dan memenangi hadiah Pulitzer bagi Nick Ut.
Segera setelah itu, fotografer ini langsung melarikannya ke RS Barsky di Saigon, di mana para dokter memperkirakan ia tak akan hidup lama karena kondisi dan luas luka bakarnya. Namun demikian, sesudah menjalani masa 14 bulan perawatan, melalui 17 kali operasi dan bertahun-tahun terapi susulan akhirnya dia bisa pulih.
Dua puluh tahun kemudian ia menikah dengan pemuda Vietnam dan berbulan madu di Moscow. Saat pesawatnya menuju kembali ke Kuba, dan mampir di New Foundland untuk mengisi bahan bakar, mereka melarikan diri untuk memperoleh suaka politik  Canada. Kim Phúc beserta suami dan dua orang anaknya telah menjadi warga negara Canada dan menetap di Toronto.
Ada satu hal yang menarik pada salah satu bagian pidatonya saat  diundang ke Washington pada tahun 1996. Di depan ribuan veteran tentara AS pada perang Vietnam Kim Phúc berkata: "Seandainya saya bisa bertatap muka dengan pilot pembom itu, saya akan bilang, kita tidak bisa mengubah sejarah. Tapi kita bisa berbuat baik untuk hari ini dan hari yang akan datang demi perdamaian." Seorang hadirin, John Plummer, menulis di kertas: "I am that man," dan meminta petugas meneruskannya ke Kim Phúc.
Setelahnya, si bekas komandan yang mengaku mem-berikan perintah pemboman itu menemuinya dan meminta maaf. Keduanya berpelukan dan Kim Phúc memaafkannya.

Berikut ini adalah pernyataan pribadi Kim Phúc tentang apa yang dia alami.

“Seusai dirawat di rumah sakit sekian lama, hatiku merasa sesak saat kembali ke rumah. Tempat kediamanku hancur lebur, semua yang kumiliki musnah. Apa yang kulakukan kini hanyalah untuk menyambung hidup, dari hari ke hari.
Kendati rasa ngilu, nyeri dan sakit kepala menjadi beban berkepanjangan, namun masa pemulihan yang panjang di rumah sakit itu menguatkan mimpiku untuk menjadi seorang dokter. Saya memang sempat menjalani sekolah kedokteran sesuai dengan mimpiku itu, namun harus kulepaskan di tengah jalan.
Kemarahan yang tersimpan di hatiku karena peristiwa itu terpendam dan menggumpal  menjadi kebencian yang memuncak setinggi gunung! Aku membenci hidup, aku membenci orang lain dan aku berkali-kali ingin mati!
Kuhabiskan hari-hariku di perpustakaan, melahap berbagai buku rohani untuk mengetahui dan memastikan tujuan hidupku. Salah satu dari banyak buku yang aku baca adalah Alkitab.
Pada peringatan Natal tahun 1982, aku menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatku. Saat itulah yang telah menjadi titik balik yang luar biasa bagi kehidupanku. Allah telah menolongku untuk belajar mengampuni — sebuah pelajaran yang amat sangat susah untuk dijalankan. Belajar untuk mengampuni itu tidak dapat dilakukan dalam satu hari, di samping juga bukan merupakan suatu hal yang mudah. Namun akhirnya aku dapat melakukan itu.
Bom Napalm memang mempunyai kekuatan yang luar biasa, namun iman, pengampunan dan kasih lebih adidaya. Kita tidak akan pernah mengalami kejamnya peperangan jika setiap orang dapat belajar tentang bagaimana hidup dengan kasih sejati, pengharapan dan pengampunan.
Jika Si Upik di dalam gambar tersebut di atas dapat melakukannya, silakan bertanya kepada diri sendiri: Mampukah aku?”



Pengampunan itu telah menjadikan aku bebas dari rasa benci.
Aku masih memiliki
banyak bekas luka di tubuhku
selain rasa ngilu yang berkepanjangan,
namun hatiku
telah dicuci bersih
dari rasa benci.

(Kim Phúc, NPR, 2008)